Cerita Salah Satu Calon Penerima Beasiswa Keuskupan Surabaya, yang berhasil melanjutkan Masa Studinya
 |
HandOver Valen/Pena
Penerima BMAKS (Beasiswa Mahasiswa Keuskupan Surabaya) tahun 2023/2024 |
SURABAYA, PENA; Impian setiap siswa setelah menyelesaikan masa 12 tahun
pendidikan formal dalam SD, SMP dan SMA, adalah ingin melanjutkan mengejar impian mereka
dengan berkuliah. Tetapi mahalnya biaya perkuliahan menjadi salah satu hambatan bagi beberapa
orang tua siswa yang kurang mampu dalam segi keuangan. Dengan adanya program beasiswa
dapat membantu meringankan beban orang tua yang ingin anaknya menggapai impian mereka
dalam melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dari sekian banyak beasiswa yang
disiapkan oleh pemerintah, salah satunya Beasiswa Keuskupan Wilayah Surabaya.
Beasiswa Keuskupan Wilayah Surabaya merupakan beasiswa yang di bawahi langsung dari
Keuskupan Surabaya. Sama halnya dengan Program Beasiswa yang lain, yang membedakan
beasiswa ini dengan yang lainnya yaitu untuk mendapatkan beasiswa ini yaitu yang beragama
Katolik dan harus aktif di kegiatan gereja Katolik, serta mahasiswa yang berkuliah di
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya.
 |
HandOver Valen/Pena Machita menjadi MC grand final pro aktif kids Surabaya season 16, Februari 2025, |
Machita Putri Pasha berusia 22 tahun, yang biasa disapa Valen, salah satu mahasiswa
Universitas Katolik Widya Mandala yang menerima Beasiswa Keuskupan Wilayah Surabaya.
“Sebenarnya ga ada inspirasi, kalau misalkan membicarakan seorang tokoh yang menjadi role
modelku untuk mendapatkan beasiswa ini ga ada. Cuman memang karena aku ingin kuliah,
ingin berkembang, dan aku juga beragama Katolik, aktif juga dalam pelayanan di gereja, jadi
ya berusaha untuk mendapatkan beasiswa ini,” ujar Valen pada Kamis (06/03/2025).
Menurut Valen, Beasiswa Keuskupan ini sangat
mempengaruhi perjalanan hidupnya, dilihat secara iman atau rohani, dari awal sebelum masuk
dan setelah masuk pun tetap stabil, konsisten, tidak ada yang berubah. Tetap melakukan
pelayanan dan dekat dengan Tuhan, tapi yang mengubah itu seperti relasi dan juga karir, karena
adanya beasiswa ini akhirnya bisa berkuliah, aktif di organisasi, sering menjadi ketua panitia,
ketua organisasi, dan juga dekat dengan dosen. Di percayakan untuk menjadi host dalam
kegiatan gereja, seperti acara pelantikan Uskup kemarin, untuk perjalanan hidup mungkin lebih
ke arah karir, ketemu dengan orang baru untuk menambah pengalaman.
Orang tua tidak lepas dari peran sertanya dalam mendukung dan membantu setiap
permasalahan yang dimiliki seorang anak, dimulai dari awal pendaftaran untuk beasiswa ini
sampai diterima. Adapun cara untuk menjaga nilai akademik dan non-akademik tetap stabil, yaitu kembali ke
diri masing-masing, agar bisa mengatur manajemen waktu, mengasah kemampuan yang
dimiliki baik itu hardskill maupun softskill dan membuat skala prioritas.